Opini: Dr. Astil Harli Roslan
Dalam dunia pendidikan tinggi yang kompetitif, prestasi mahasiswa bukan sekadar pelengkap citra institusi, tetapi menjadi indikator kredibilitas akademik yang dinilai langsung oleh masyarakat. Prestasi berfungsi sebagai sinyal mutu (quality signal) yang mengkomunikasikan keunggulan kampus secara faktual. Hal ini sejalan dengan Signaling Theory yang diperkenalkan oleh Michael Spence (1973), yang menjelaskan bahwa prestasi adalah bentuk sinyal positif yang mampu memengaruhi persepsi publik terhadap kualitas suatu lembaga. Di STIE Enam Enam Kendari, rangkaian prestasi mahasiswa yang terus bermunculan membentuk sinyal mutu yang kuat dan berdampak langsung pada reputasi kampus.
Komitmen kampus terhadap budaya prestasi ini tidak berdiri sendiri, tetapi diperkuat oleh dukungan kepemimpinan yang visioner. Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Enam Enam Bumi Kendari, Ichsanuddin Akbar, S.T., M.M., dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya pada 18 Oktober 2025, menegaskan bahwa prestasi adalah identitas yang harus dijaga dan dikembangkan oleh kampus. Ia mengatakan, “Kampus STIE Enam Enam Kendari telah menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi yang unggul dan terpercaya. Ini adalah hasil kerja keras, komitmen, dan dedikasi dari semua pihak yang terlibat. Semangat ini harus terus kita pertahankan sebagai bagian dari martabat institusi,”ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa prestasi bukan hanya kebanggaan sesaat, tetapi strategi penguatan reputasi yang terstruktur di bawah payung kebijakan yayasan.

Salah satu contoh terbaru yang memperkuat reputasi kampus adalah capaian Ahmad Adrian Suparman, mahasiswa STIE Enam Enam Kendari yang sukses menorehkan prestasi nasional dalam Grand Final Putra Putri Budaya Indonesia (PPBI) 2025) di Universitas Negeri Yogyakarta. Setelah melalui seleksi ketat mulai dari penilaian prestasi, uji wawasan kebudayaan, dan tes komunikasi publik, ia resmi mewakili Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada babak final, Ahmad Adrian berhasil meraih empat penghargaan sekaligus: 1st Runner Up Putra Budaya Indonesia 2025, Peserta Terfavorit Nasional, Top 1 Head to Head Challenge, dan Top 10 Indonesia Pintar. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa STIE Enam Enam Kendari mampu bersaing di tingkat nasional, sekaligus memberikan sinyal kuat bahwa kampus ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk talenta berprestasi.
Prestasi juga hadir di ranah olahraga. Irawaty Rumbia, mahasiswi STIE Enam Enam Kendari, berhasil meraih Medali Emas dalam ajang South Sulawesi Championship 2025 cabang pencak silat. Selain itu, kampus ini juga mengirimkan kontingen bulutangkis untuk berlaga pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIX 2025 di Jawa Tengah. Fakta ini mempertegas bahwa STIE Enam Enam Kendari bukan hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga memberi ruang pembinaan karakter melalui sportivitas dan kompetisi sehat di bidang olahraga.

Di ranah intelektual, dua mahasiswa STIE Enam Enam Kendari juga berhasil lolos sebagai finalis Kompetisi Opini Ilmiah Forkestra 2025 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa STIE Enam Enam Kendari tidak hanya unggul dalam aksi, tetapi juga kuat dalam gagasan. Kehadiran mereka dalam forum nasional berbasis akademik ini menegaskan bahwa kampus memiliki ekosistem keilmuan yang mendukung mahasiswa berpikir kritis, produktif, dan solutif terhadap isu-isu bangsa.

Jika ditinjau dari perspektif penguatan reputasi kampus, akumulasi prestasi tersebut membentuk apa yang dalam teori reputasi disebut Reputation Inertia Effect, yaitu reputasi yang bergerak naik secara berkelanjutan dan konsisten karena ditopang oleh prestasi yang berulang. Konsep ini dikemukakan dalam kajian reputasi organisasi oleh David Deephouse (2000) dan diperkuat oleh Barnett, Jermier & Lafferty (2006) yang menjelaskan bahwa reputasi akan terus menguat ketika institusi berhasil mempertahankan bukti kualitas secara periodik dalam kinerja akademik maupun non-akademik. Reputasi yang terbentuk dari bukti akan lebih dipercaya daripada reputasi yang dibangun hanya melalui promosi.
Karena itu, STIE Enam Enam Kendari harus menjaga dan memanfaatkan momentum ini. Prestasi bukan hanya untuk dirayakan, tetapi harus dikelola sebagai aset reputasi institusi. Dengan memperkuat sistem pembinaan prestasi, memfasilitasi minat dan bakat mahasiswa, serta menopang karakter akademik berbasis integritas dan daya saing, kampus ini memiliki peluang besar menjadi sentra prestasi Perguruan Tinggi Swasta di kawasan Indonesia Timur. Ketika prestasi telah menjadi tradisi, reputasi akan tumbuh dengan sendirinya.

