Oleh: Dr. Astil Harli Roslan
Ada fenomena menarik di media sosial hari ini. Mahasiswa tidak lagi hanya membagikan aktivitas pribadi, tetapi juga mulai ramai memperkenalkan kampusnya. Mereka mengunggah poster penerimaan mahasiswa baru, membagikan suasana perkuliahan, menampilkan kegiatan organisasi, hingga mengajak calon mahasiswa memilih almamater tempat mereka belajar. Sekilas tampak sederhana, tetapi sebenarnya ini menunjukkan perubahan penting dalam cara perguruan tinggi membangun reputasi.
Kampus tidak lagi hanya dikenal melalui baliho, brosur, spanduk, atau iklan resmi. Di era digital, mahasiswa telah menjadi wajah sosial kampus. Mereka membawa cerita, pengalaman, dan identitas almamater ke ruang publik. Dalam kajian pendidikan tinggi, peran ini dikenal sebagai student ambassadors. Ylonen (2010), dalam artikelnya The Role of Student Ambassadors in Higher Education: An Uneasy Association Between Autonomy and Accountability yang terbit di Journal of Further and Higher Education, menjelaskan bahwa student ambassadors berperan penting memperkenalkan pendidikan tinggi kepada calon mahasiswa. Namun, peran ini juga menuntut tanggung jawab agar informasi yang disampaikan tetap akurat dan dapat dipercaya.

Fenomena ini dapat dibaca melalui Social Identity Theory yang diperkenalkan oleh Tajfel dan Turner (1979). Teori ini menjelaskan bahwa seseorang dapat membangun identitas dirinya melalui kelompok atau institusi tempat ia berada. Dalam konteks kampus, mahasiswa yang bangga terhadap almamaternya akan cenderung menunjukkan identitas itu kepada orang lain. Ia tidak malu menyebut nama kampus, memakai atribut kampus, membagikan kegiatan, bahkan ikut mengajak calon mahasiswa baru.
Promosi mahasiswa melalui media sosial juga sejalan dengan konsep Electronic Word of Mouth atau e-WOM. Hennig-Thurau et al. (2004) menjelaskan bahwa e-WOM adalah pernyataan positif atau negatif yang disampaikan seseorang tentang produk, layanan, atau institusi melalui internet. Maka, unggahan mahasiswa di WhatsApp, Instagram, Facebook, atau TikTok bukan sekadar status biasa. Ia adalah promosi dari mulut ke mulut secara digital yang bisa memengaruhi persepsi calon mahasiswa dan orang tua.
Dalam konteks STIE Enam Enam Kendari, student ambassadors menjadi sangat relevan. Sebagai salah satu perguruan tinggi ekonomi di Sulawesi Tenggara, kampus ini memiliki modal reputasi yang dapat diperkuat melalui suara mahasiswa. STIE Enam Enam Kendari menawarkan program S1 Manajemen, S1 Akuntansi, dan S2 Magister Manajemen. Pilihan ini dekat dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, pemerintahan, perbankan, kewirausahaan, dan sektor profesional lainnya.
Selain program studi, aspek beasiswa juga menjadi daya tarik penting. STIE Enam Enam Kendari menyediakan dan memfasilitasi berbagai sumber beasiswa, seperti KIP Kuliah, beasiswa dari Kemdikbud, beasiswa dari yayasan, bantuan pemerintah kota/kabupaten, serta peluang dari BUMN, BUMD, dan pihak swasta. Bagi banyak keluarga, informasi beasiswa bukan sekadar tambahan promosi, tetapi alasan penting untuk berani melanjutkan pendidikan tinggi.
Keunggulan lain yang dapat disuarakan mahasiswa adalah program studi yang terakreditasi, dosen praktisi dan akademisi, ruang kuliah yang mendukung, suasana akademik yang kondusif, waktu kuliah yang fleksibel, serta lokasi kampus yang strategis di tengah Kota Kendari. Informasi seperti ini akan lebih meyakinkan jika tidak hanya datang dari lembaga, tetapi juga dari mahasiswa yang merasakan langsung suasana kampus.
Namun, mahasiswa tidak boleh dipahami sebagai tenaga promosi gratis. Mereka adalah cermin pengalaman akademik. Jika mahasiswa bangga, promosi akan berjalan alami. Jika mahasiswa merasa dihargai, mereka akan bercerita dengan tulus. Sebaliknya, jika pengalaman mereka tidak sesuai dengan janji kampus, maka promosi hanya akan menjadi pencitraan yang rapuh. Karena itu, reputasi kampus harus dimulai dari kualitas layanan yang benar-benar dirasakan.
Momentum ini menjadi penting dalam penerimaan mahasiswa baru gelombang kedua STIE Enam Enam Kendari tahun akademik 2026/2027. Kampus membuka kesempatan bagi calon mahasiswa untuk mendaftar pada S1 Manajemen, S1 Akuntansi, dan S2 Magister Manajemen, dengan kuota yang diinformasikan mencapai 1.120 kursi. Pendaftaran dibuka mulai 20 Juni sampai 14 Agustus 2026. Periode ini bukan hanya agenda administrasi, tetapi juga momentum reputasi.
Secara teknis, mahasiswa dapat membantu menyebarkan informasi secara bertahap. Pada tahap awal, informasi diarahkan pada pembukaan gelombang kedua, pilihan program studi, dan keunggulan kampus. Tahap berikutnya dapat menekankan beasiswa, fasilitas, suasana akademik, fleksibilitas kuliah, dan peluang lulusan. Menjelang batas akhir 14 Agustus 2026, promosi perlu diperkuat dengan pengingat jadwal dan arahan agar calon mahasiswa mendaftar melalui kanal resmi kampus.
Pada akhirnya, reputasi kampus tidak hanya dibangun oleh gedung, brosur, atau desain promosi yang menarik. Reputasi tumbuh dari pengalaman yang dirasakan, diceritakan, dan dipercaya. Mahasiswa yang bangga terhadap kampusnya adalah modal reputasi yang sangat berharga. Maka, ketika mahasiswa STIE Enam Enam Kendari ramai-ramai memperkenalkan kampusnya, itu bukan sekadar keramaian media sosial, melainkan tanda bahwa mahasiswa dapat menjadi kekuatan reputasi.
Student ambassadors bukan tentang siapa yang paling sering membagikan poster. Ia adalah tentang siapa yang mampu membawa nama kampus dengan bangga, jujur, dan bertanggung jawab. Bagi STIE Enam Enam Kendari, penerimaan mahasiswa baru gelombang kedua adalah momentum untuk memperlihatkan bahwa reputasi kampus tidak hanya dibentuk oleh promosi resmi, tetapi juga oleh suara mahasiswa yang percaya pada almamaternya sendiri.
