Kendari – Abdul Syaban mahasiswa Program Doktor pada Program Studi Ilmu Manajemen, konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO) dinyatakan lulus ujian terbuka promosi doktor, Senin (12/1/2026). Ujian terbuka tersebut digelar di Aula Pascasarjana UHO dan dihadiri tim promotor, penguji, serta tamu undangan.

Dalam pemaparan materinya, Abdul Syaban mengatakan risetnya berangkat dari kebutuhan organisasi untuk memahami mengapa kebijakan SDM tidak selalu menghasilkan dampak yang sama pada semua karyawan. “Saya melihat kebijakan rekrutmen, pelatihan, dan kompensasi sering dianggap selesai ketika sudah dijalankan, padahal yang penting adalah bagaimana kebijakan itu benar-benar memicu keterlibatan kerja dan akhirnya mendorong kinerja,” katanya.
Dalam disertasinya Abdul Syaban meneliti pengaruh perekrutan bakat, pelatihan dan pengembangan, serta kompensasi terhadap kinerja karyawan. Penelitian ini menempatkan keterlibatan kerja sebagai variabel mediasi dan demografi sebagai variabel moderasi dengan objek penelitian pada bank pembangunan daerah di Sulawesi Tenggara.

Ia menjelaskan bahwa salah satu temuan utama penelitian menunjukkan keterlibatan kerja menjadi penghubung yang penting antara praktik SDM dan kinerja. “Keterlibatan kerja terbukti menjadi kunci. Ketika karyawan merasa terlibat, kinerja ikut terdorong. Karena itu kebijakan kompensasi, pelatihan, dan perekrutan harus diarahkan untuk memperkuat keterlibatan kerja,” ujarnya.
Menurut Abdul Syaban hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa kebijakan SDM tidak hanya bekerja melalui keterlibatan kerja tetapi juga punya dampak langsung terhadap kinerja. “Rekrutmen yang tepat, pelatihan yang sesuai kebutuhan, dan kompensasi yang dirasakan adil sama-sama berkontribusi pada kinerja. Ini memberi sinyal bahwa perusahaan perlu konsisten membenahi sistem dari hulu sampai hilir,” kata dia.

Abdul Syaban menyebut temuan penting lainnya berkaitan dengan peran demografi pada pengaruh tertentu khususnya terkait kompensasi dan kinerja. “Kami menemukan demografi ikut menentukan kuat lemahnya pengaruh kompensasi terhadap kinerja. Artinya kebijakan kompensasi tidak cukup hanya kompetitif tetapi juga perlu lebih adaptif dan mempertimbangkan karakteristik karyawan,” ujarnya.
Abdul Syaban yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STIE Enam Enam Kendari menjelaskan, penelitiannya merupakan pengembangan dari studi terdahulu yang menelaah praktik manajemen bakat terhadap kinerja dengan keterlibatan karyawan sebagai mediator pada institusi pendidikan tinggi. Studi tersebut merekomendasikan kajian lanjutan dengan menambahkan demografi sebagai variabel moderasi serta menguji model pada objek di luar sektor pendidikan yakni sektor industri. “Rekomendasi itu yang saya bawa ke konteks perbankan daerah karena realitasnya karyawan direkrut dari latar demografi yang beragam dan organisasi menuntut kinerja yang terus meningkat,” katanya.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi manajemen dalam menyusun kebijakan SDM yang lebih tepat sasaran mulai dari rekrutmen yang lebih sistematis, pelatihan berbasis kebutuhan, hingga kompensasi yang kompetitif dan adil dengan tetap mempertimbangkan keterlibatan kerja dan keragaman demografi karyawan. “Harapannya temuan ini bisa dipakai sebagai bahan evaluasi kebijakan agar lebih tepat guna dan berdampak pada kinerja,” pungkas Abdul Syaban.

