Oleh: Astil Harli Roslan
Jika pada Bagian 1 kita telah membahas filsafat ilmu sebagai fondasi konseptual penelitian, maka Bagian 2 ini berfokus pada bagaimana fondasi tersebut mewujud dalam proses metodologis yang konkret. Di dalam buku Theory Perspectivising untuk Pengembangan Model Penelitian, Prof. Augusty Tae Ferdinand (AGF) menempatkan deductive reasoning sebagai “tulang punggung” penelitian kuantitatif: sebuah cara berpikir sistematis yang mengubah teori menjadi konsep, konsep menjadi variabel, dan variabel menjadi model penelitian yang empiris.

Bab 2 buku ini menampilkan struktur yang sangat khas yaitu alur deduksi dibagi menjadi lima langkah besar mulai dari menemukan masalah hingga mengonfirmasi atau menolak hipotesis. Secara filosofis, deduksi adalah praktik epistemologis; tetapi dalam konteks theory perspectivising, deduksi juga merupakan seni menarik makna baru dari teori yang sudah mapan untuk menjawab celah pengetahuan.
- Langkah Pertama: Menemukan Masalah Problematisasi sebagai Titik Awal Deduksi
Sebagaimana diuraikan Prof AGF, penelitian tidak dimulai dari data, ia dimulai dari masalah. Namun masalah yang dimaksud bukan fenomena teknis semata, melainkan research gap yang memiliki akar konseptual. Proses menemukan masalah adalah praktik teoritik, peneliti membaca temuan terdahulu, melihat ketidakkonsistenan, mengidentifikasi hubungan yang belum diuji, atau konteks baru yang belum dieksplorasi.
Misalnya: terdapat banyak penelitian tentang customer loyalty, tetapi tidak semuanya konsisten tentang peran value-in-use (Nilai yang dirasakan pelanggan ketika mereka menggunakan suatu barang atau layanan). Ketidakselarasan itu sendiri merupakan “masalah ilmiah”.
Prof AGF menekankan, masalah yang baik adalah masalah yang menuntut teori untuk bekerja. Inilah titik awal deduktif. Peneliti belum memilih metode apa pun ia baru memilih apa yang perlu dijelaskan.
- Langkah Kedua: Adopsi dan Deduksi Teori sebagai Pisau Analisis
Langkah kedua adalah jantung dari Bab 2. Pada bagian ini, Prof AGF mengajarkan bahwa teori adalah “pisau analisis” alat untuk membedah fenomena. Teori tidak hanya dipilih, tetapi didudukkan melalui deduksi, dan dari situlah perspektif teoretis lahir.
Terdapat beberapa teori yang ditulis dalam buku Prof AGF, namun dalam pembahasan ini dicontohkan berdasarkan dua teori saja yaitu:
Pertama, Resource-Based Theory (RBT). RBT menyatakan bahwa organisasi memperoleh keunggulan kompetitif melalui pengelolaan sumber daya internal yang bersifat: (a) Valuable, (b) Rare, (c) Inimitable, dan (d) Non-Substitutable.
Dengan demikian, deduksi bukan sekadar menyatakan teori, tetapi menurunkan konstruksi baru yang tetap setia pada filosofi dasarnya. RBT menjadi sumber logika, bukan hanya sumber kutipan.
Kedua, Service-Dominant Logic (SDL), SDL menawarkan paradigma yang sangat berbeda: nilai tidak melekat pada produk, tetapi terbentuk dalam proses penggunaan (value-in-use). Dalam buku, Prof. AGF menyoroti dua prinsip utama SDL: (a) Semua ekonomi adalah ekonomi layanan,
(b) Nilai adalah hasil ko-kreasi, bukan hasil produk.
SDL adalah perspective yang sangat subur untuk deduksi karena ia menekankan proses, interaksi, dan pengalaman.
Bagaimana deduksi bekerja pada SDL?
Premise teori: Nilai diciptakan dalam interaksi layanan.
Pertanyaan HOW:
“Bagaimana proses layanan menciptakan nilai pada konteks X?”
Perspektif:
Dari deduksi SDL, muncul konsep-konsep seperti service process experience atau co-created value sebagai penjelas bagaimana nilai terbentuk dalam interaksi layanan.
Proses layanan (X) memiliki pengaruh terhadap value-in-use (M) yang dirasakan pelanggan. Ketika proses layanan berjalan dengan baik, pelanggan memperoleh manfaat yang lebih besar dari penggunaan layanan tersebut, dan value-in-use yang meningkat selanjutnya mempengaruhi loyalitas pelanggan (Y).
Contoh ini menunjukkan bagaimana teori layanan dapat menjelaskan fenomena sederhana seperti penurunan loyalitas pelanggan di kafe atau UMKM jasa.
- Langkah Ketiga: Pengembangan Konsep dan Model Penelitian
Pada tahap ini, Prof AGF menekankan bahwa hasil deduksi bukan variabel, tetapi konsep. Konsep lahir dari perspektif (hasil deduksi teori). Setelah konsep dirumuskan, barulah variabel diturunkan dan model dirancang.
Prof. AGF memberi beberapa aturan logis:
a.Konsep Tidak Boleh Tumpang Tindih,
b.Hubungan Harus Memiliki Koherensi Ontologis,
c.Model Harus Memiliki Testability,
d.Setiap Panah Memiliki Dasar Argumentatif, Bukan Preferensi Pribadi.
Dengan demikian, model adalah “ekspresi logika deduktif”, bukan sekadar diagram.
- Langkah Keempat: Observasi dan Pengujian
Tahap ini adalah penahapan empiris: menentukan locus, tempus, dan unit analisis untuk menguji model. Di sini, deduksi menjadi dasar metodologis; uji statistik hanyalah cara mengonfirmasi apa yang sudah dipikirkan secara teoretis.
- Langkah Kelima: Konfirmasi atau Penolakan
Prof. AGF menegaskan bahwa:
Hipotesis tidak dibuat untuk dibuktikan, tetapi untuk diuji.
Jika ditolak, itu bukan kegagalan metodologis, melainkan sinyal bahwa perspektif konseptual perlu diperbaiki. Inilah sifat ilmiah dari deduksi.
Penutup: Deduksi sebagai Jalan dari Filsafat ke Model Empiris
Jika Bagian 1 adalah fondasi filsafat ilmu, maka Bagian 2 ini menunjukkan bagaimana filsafat itu bergerak melalui langkah-langkah deduktif yaitu menemukan masalah, memilih teori, memahaminya secara filosofis, menarik perspektif melalui pertanyaan HOW, lalu menurunkannya menjadi konsep dan model. Deduksi membuat riset manajemen menjadi logis, konsisten, teoretis, kreatif dan akhirnya berkontribusi pada pengetahuan. Dengan dua contoh teori RBT dan SDL kita melihat bagaimana teori menjadi sumber logika, bukan ornamen kutipan. Dari sinilah Theory Perspectivising mengambil makna sepenuhnya, teori bukan untuk dihafal, tetapi untuk diolah menjadi perspektif baru.
Setelah memahami bagaimana deduksi bekerja sebagai jembatan antara teori dan model empiris, perjalanan ini belum berakhir. Justru pada titik inilah sebuah babak baru terbuka ruang di mana teori tidak hanya diturunkan, tetapi diolah, dipertajam, dan dilahirkan kembali dalam bentuk konsep yang benar-benar baru. Pada bahasan berikutnya kita akan memasuki inti terdalam dari Theory Perspectivising: seni melahirkan variabel baru dari deduksi teori. Di sana, penalaran bukan lagi sekadar langkah metodologis, tetapi menjadi proses kreatif yang memungkinkan peneliti menangkap makna yang sebelumnya tersembunyi di balik premis-premis besar teori.

